Go-Pena Baner

Saturday, 21 February, 2026

Kisah Cinta dan Ilmu : Prof.Dakia dan Prof Asna Dikukuhkan Menjadi Guru Besar

Responsive image
Pasangan suami isteri, Prof. Dr. Dakia N. Djou, M.Hum dengan Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum yang dikukuhkan sebagai guru besar UNG.

GORONTALO - Di balik capaian akademik tertinggi, sering tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kesabaran, dan kebersamaan. Itulah yang tergambar dari perjalanan hidup Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum. dan Prof. Dr. Dakia N. Djou, M.Hum., pasangan suami istri yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada Selasa, 3 Februari 2026.

Kisah mereka bukan sekadar tentang prestasi, tetapi tentang langkah yang seirama sejak masa mahasiswa hingga puncak karier akademik.

Semua bermula dari sebuah peristiwa sederhana yang tak pernah disangka akan menjadi awal cerita besar. Prof. Dakia mengenang momen ketika ia pertama kali “bertemu” Prof. Asna—bahkan sebelum saling mengenal nama.

“Saya tertarik dengar suara orang mengaji. Sumbernya dari dekat bangsal sepeda. Karena penasaran, ada jendela yang saya panjat,” ujarnya sambil tersenyum saat berbagi cerita kepada wartawan.

Dari rasa penasaran itu, perkenalan pun terjadi. Tak lama berselang, keduanya kembali dipertemukan saat pendaftaran mahasiswa baru. Kedekatan semakin terjalin ketika masa orientasi mahasiswa, dan mereka menyadari berada di fakultas yang sama. Sejak itulah, kebersamaan mereka tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam proses belajar dan berjuang.

Langkah mereka nyaris selalu beriringan. Lulus sarjana di waktu yang sama, sama-sama memperoleh beasiswa, hingga akhirnya berangkat melanjutkan studi doktor secara bersamaan. Waktu, jarak, dan tantangan akademik dijalani berdua—sebagai rekan seperjalanan sekaligus pasangan hidup.

Puncak dari perjalanan panjang itu terjadi ketika keduanya dikukuhkan sebagai guru besar UNG. Prof. Dakia dikukuhkan sebagai guru besar bidang Linguistik, sementara Prof. Asna meraih jabatan guru besar pada bidang Analisis Wacana Budaya. Kini, keduanya sama-sama mengabdi sebagai dosen di Fakultas Sastra dan Budaya UNG.

Di luar seremoni dan gelar, dedikasi mereka tercermin dari aktivitas sehari-hari sebagai akademisi. Mengajar, meneliti, serta membimbing mahasiswa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Karya-karya ilmiah yang dihasilkan banyak mengangkat persoalan bahasa dan budaya yang dekat dengan realitas masyarakat Gorontalo—sebuah upaya menjembatani ilmu pengetahuan dengan kehidupan sosial.

Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Eduart Wolok, memberikan apresiasi tinggi atas capaian pasangan tersebut. Menurutnya, kisah Prof. Asna dan Prof. Dakia menjadi teladan bahwa konsistensi dan kolaborasi mampu melahirkan prestasi luar biasa.

“Ini bukan hanya kebanggaan bagi UNG, tetapi juga inspirasi bagi sivitas akademika. Mereka menunjukkan bahwa pengembangan karier akademik dapat berjalan seiring dengan keharmonisan keluarga, bahkan saling menguatkan,” ujar Eduart Wolok.

Ia menambahkan, kehadiran dua guru besar dalam satu fakultas dengan fokus kajian bahasa dan budaya menjadi kekuatan penting bagi UNG dalam memperkuat riset berbasis kearifan lokal serta pengembangan ilmu humaniora.

Dari bangsal sepeda hingga podium pengukuhan guru besar, perjalanan Prof. Asna dan Prof. Dakia adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan, ketika dijalani dengan ketulusan dan kebersamaan, mampu menjadi kisah hidup yang menginspirasi banyak orang.(Rendi)


Share