Go-Pena Baner

Tuesday, 20 October, 2026

Anang Otoluwa Perkuat Deteksi Dini Masalah Gigi dan Mulut

Responsive image
Kepala Dinas Anang S. Otoluwa membuka pelatihan deteksi dini penyakit gigi dan mulut bagi tenaga kesehatan puskesmas.

PEMPROV - Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menyoroti tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut yang ditemukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, masalah gigi dan mulut menempati urutan kedua setelah hipertensi.

Kondisi ini mendorong Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo memperkuat upaya deteksi dini melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di puskesmas. Penguatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemeriksaan, edukasi, hingga tindak lanjut pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat.

Anang menyampaikan hal itu saat membuka pelatihan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam deteksi dini penyakit gigi dan mulut di Hotel Aston, Kota Gorontalo, Jumat (16/10/2026).

“Yang paling penting, setelah pelatihan ini para peserta dapat meningkatkan pemeriksaan gigi dan mulut di lapangan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Sebab, berdasarkan hasil CKG, masalah kesehatan gigi dan mulut menjadi masalah terbesar kedua di Provinsi Gorontalo setelah hipertensi,” kata Anang.

Data CKG Provinsi Gorontalo per 16 Oktober 2026 menunjukkan, masalah kesehatan gigi dan mulut masih ditemukan pada kelompok dewasa maupun anak-anak.

Pada kelompok usia 18 tahun ke atas, sebanyak 71.830 orang atau 24,65 persen mengalami karies gigi dari total 291.443 orang yang diperiksa. Selain itu, 49.820 orang atau 18,65 persen tercatat mengalami kehilangan atau pencabutan gigi.

Sementara itu, pada kelompok usia 25 tahun ke atas, sebanyak 7.528 orang atau 4,96 persen mengalami gigi goyang. Sebanyak 5.320 orang lainnya atau 3,5 persen teridentifikasi memiliki pocket periodontal, yakni kantong abnormal di antara gigi dan gusi yang dapat menjadi tanda penyakit periodontal.

Persoalan kesehatan gigi juga menjadi perhatian pada kelompok anak-anak. Dari 111.300 anak yang menjadi sasaran pemeriksaan, sebanyak 87.679 anak atau 78,78 persen telah menjalani skrining.

Dari jumlah anak yang diperiksa tersebut, sebanyak 36.698 anak atau 41,85 persen mengalami karies gigi. Sementara itu, 50.981 anak atau 58,15 persen tidak mengalami karies.

Dari total anak yang mengalami karies, sebanyak 30.350 anak atau 82,7 persen memiliki satu hingga tiga gigi karies. Adapun 6.348 anak atau 17,3 persen mengalami karies pada lebih dari tiga gigi.

Data tersebut memperlihatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan gigi sejak usia dini. Deteksi dini diperlukan agar kerusakan gigi dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Tantangan serupa juga tergambar dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Survei tersebut mencatat 56,9 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2 persen penduduk yang mengalami masalah tersebut menerima perawatan dari tenaga kesehatan gigi.

Untuk memperkuat pelayanan di tingkat pertama, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo menggelar pelatihan yang diikuti 30 tenaga kesehatan pengelola program kesehatan gigi dan mulut dari puskesmas. Peserta terdiri atas dokter gigi dan terapis gigi.

Pelatihan berlangsung pada 15–21 Oktober 2026 dengan fokus meningkatkan kompetensi peserta dalam mendeteksi masalah kesehatan gigi dan mulut serta memperkuat kualitas pelayanan di wilayah kerja masing-masing.

Melalui kegiatan ini, tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan pemeriksaan, tetapi juga berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari penguatan pelayanan promotif dan preventif untuk mendorong kesadaran masyarakat menjaga kesehatan gigi dan mulut.(*)


Share