Oleh: Dahlan Pido (Pemerhati dan Praktisi Hukum)
Nasib demokrasi Nasdem pasca 40 hari kepergian almarhum Rachmat Gobel (RG) berada di fase krusial dan menghadapi tantangan besar, ini dilihat dan dinilai banyak orang cenderung berjalan stagnan atau bisa menurun ?, bahkan secara normal hanya prosedural ikut pemilu saja, tetapi melemah secara substansial. Demokrasi prosedural hanya berjalan rutin mengikuti pemilu, tetapi belum sepenuhnya memperbaiki keadaan, melihat kesejahteraan rakyat secara merata seperti yang diniatkan dan dilakukan oleh almarhum RG selama ini. Kepercayaan publik Gorontalo terhadap figur lain masih apatis karena tidak sejalan dan tidak konsisten dengan aspirasi rakyat bawah seperti yang djalankan almarhum RG selama ini, melakukan politik bersih yang santun, apa yang dikatakan konsisten dengan tindakan.
Sepanjang sejarah perpolitikan di Indonesia, apalagi di Gorontalo selalu berkaitan dengan kemampuan mengendalikan sumber daya manusia dengan sumber daya finansial atau modal ekonomi. Ditangan almarhum RG sumber daya itu ada, yang terlihat secara phisik memiliki pengaruh luar biasa besar. Dalam aktifitas beliau sehari-hari, almarhum RG nyata di dunia digital yang bisa dilihat dari jejak informasi/di media sosial, ini yang menjadi bagian dari terus bertambahnya pemilih setiap hari pada Nasdem. Ketika almarhum RG tiada akan memengaruhi cara berpikir masyarakat pemilih beliau selama ini, dalam konteks politik, perubahan ini telah mengubah wajah demokrasi Nasdem secara fundamental, dan ini menjadi kerja keras Ketum Surya Paloh dan jajaran DPP Pusat memikirkan kantong Indonesia Timur 2029, khususnya Gorontalo.
Pertanyaannya siapa yang memiliki kekuatan politik besar tersebut di Gorontalo, siapa yang mampu mengendalikan dan memahami perilaku publik tersebut sekarang. Data itu dibutuhkan sebagai sumber daya strategis sebagai sumber daya paling berharga dalam politik. Perusahaan teknologi besar sekalipun mengumpulkan miliaran data setiap hari untuk memahami perilaku pengguna, pemilih untuk mengembangkan produknya, dan meningkatkan keuntungan bisnis. Dunia politik sama persis untuk meningkatkan nilai politik yang sangat besar melalui analisis data, organisasi politik dapat memahami preferensi pemilih, memetakan kelompok masyarakat tertentu, mengidentifikasi isu yang paling sensitif, dan merancang strategi komunikasi yang lebih efektif.
Dalam konteks ini, data menjadi instrumen kekuasaan yang memungkinkan aktor politik memahami masyarakat dengan tingkat detail yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini memunculnya politik berbasis Algoritma modern mampu mengenali pola perilaku, memprediksi kecenderungan politik, dan menentukan pilihannya. Akibatnya, kampanye politik sudah berjalan hari-hari, tidak lagi bergantung pada pidato publik, debat, atau media massa tradisional. Politik kini semakin bergantung pada analisis data dan strategi digital yang sangat terpersonalisasi.
Setiap individu dapat menerima pesan politik yang berbeda yang mengubah cara membangun kekuasaan, dan sekaligus mempertahankan dalam masyarakat modern dengan Media Sosial dan Transformasi Publik yang begitu Global, tanpa ruang dan waktu.
Salah satu perubahan terbesar dalam politik digital adalah peran media sosial sebagai ruang publik, dan informasi ini diperoleh melalui platform digital yang dikendalikan algoritma yang bisa mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Kondisi seperti ini, algoritma secara tidak langsung membentuk dinamika politik masyarakat secara sangat spesifik melalui pemanfaatan Big Data. Strategi ini memungkinkan aktor politik memengaruhi kelompok tertentu dengan cara yang jauh lebih efektif dibanding metode kampanye tradisional. Personalisasi yang terlalu kuat membuka opini publik, masyarakat tidak lagi menerima informasi yang sama, tetapi hidup dalam ruang informasi yang berbeda-beda. Demokrasi almarhum RG di poles sedemikian rupa, masyarakat digantungkan pada keberadaan ruang publik yang baik, yang memungkinkan masyarakat berdiskusi berdasarkan informasi yang relatif sama, seperti dilakukan dalam perbaikan dan renovasi Menara Limboto, Danau Perintis di Suwawa, dan Resort di Pentadio Telaga.
Kondisi ini memperkuat polarisasi politik terhadap almarhum RG yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh aktor politik lainnya. Sebagai aktor yang memiliki pengaruh politik luar biasa besar, platform digital ini dipilih almarhum RG, ini tidak dipilih melalui pemilu, tetapi memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang dilihat ratusan orang setiap hari. Fenomena ini menciptakan bentuk penguasaan baru yang berada di luar struktur politik tradisional, bahkan tidak dimiliki oleh figure lain yang bisa membuka kemungkinan baru dalam dunia politik.
Menghadapi tantangan ini, demokrasi Nasdem Gorontalo yang ditinggal almarhum RG, perlu beradaptasi dengan realitas baru yang semakin penting agar masyarakat pemilih di Gorontalo mampu dipertahankan. Politik abad kedeoan tidak lagi hanya berlangsung di gedung parlemen, ruang rapat partai, atau panggung kampanye, tetapi berlangsung di pusat data, jaringan algoritma, dan platform digital yang membentuk cara manusia memahami dunia politik dan ekonomi. Data telah berubah menjadi sumber kekuasaan baru, sementara algoritma menjadi instrumen yang menentukan bagaimana kekuasaan tersebut digunakan, semua hal di atas dimilik oleh almarhum RG.
Di tengah transformasi ini, tantangan terbesar demokrasi bukan sekadar menghadapi kemajuan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali masyarakat, bukan sebaliknya. Pada akhirnya, masa depan Nasdem Gorontalo akan sangat ditentukan oleh TRAH Gobel atau penerus yang baru yang secara perlahan membentuk dan mengendalikan pilihan-pilihan masyarakat selama ini, atau stagnan atau akan menurun, peneruslah yang akan menjawab semua ini ???.
Salam penulis, Dahlan Pido, SH., MH.