Go-Pena Baner

Thursday, 20 August, 2026

Prof Novianty Djafri Dorong Transformational Parenting School untuk Sukseskan Gerakan Kembali Bersekolah

Responsive image
Guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan, UNG, Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I memberikan materi di SDN 8 Bilato.

GORONTALO – Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I, mendorong pemberdayaan orang tua asuh melalui model Transformational Parenting School (TPS) sebagai salah satu strategi untuk menyukseskan Gerakan Kembali Bersekolah (GKB).

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Novianty dalam kegiatan pengabdian yang mengangkat tema “Model Transformational Parenting School: Pemberdayaan Orang Tua Asuh Berbasis Tata Kelola Sekolah untuk Sukseskan GKB: Wilayah Pesisir SDN 8 Bilato”, Rabu (19/8/2026).

Prof. Novianty menjelaskan, persoalan anak putus sekolah tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi. Kurangnya pendampingan dari lingkungan rumah juga menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, menurutnya, upaya mengembalikan anak ke bangku sekolah melalui GKB harus dibarengi dengan penguatan peran orang tua maupun orang tua asuh.

“Transformational Parenting School merupakan model pelatihan dan pemberdayaan yang terstruktur bagi orang tua atau orang tua asuh,” demikian konsep yang dipaparkan dalam materi tersebut. Prof. Novianty menekankan, pendekatan TPS mengadopsi prinsip kepemimpinan transformasional yang menempatkan orang tua bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menginspirasi, memotivasi dan menggerakkan anak.

Model tersebut juga mendorong adanya keselarasan antara pola pengasuhan di rumah dengan sistem pendidikan di sekolah. Dengan demikian, nilai-nilai yang dibangun sekolah dapat diperkuat melalui lingkungan keluarga.

Dalam penerapannya, TPS memiliki sejumlah komponen utama, yakni refleksi kritis, dialog sosial, penyelarasan visi, serta aksi nyata. Orang tua didorong untuk mengevaluasi pola pengasuhan yang selama ini diterapkan, membangun komunikasi dengan sesama orang tua, menyelaraskan nilai karakter antara rumah dan sekolah, serta menerapkan pola komunikasi positif yang mendukung kemandirian anak.

Menurut Prof. Novianty, pemberdayaan orang tua asuh juga harus terintegrasi dengan tata kelola sekolah. Program bantuan maupun pendampingan kepada siswa tidak boleh berjalan secara parsial, tetapi perlu masuk dalam sistem administrasi, keuangan dan komunikasi resmi sekolah. Ia menekankan empat prinsip penting dalam tata kelola program orang tua asuh, yakni transparansi, akuntabilitas, partisipasi dan keadilan.

Sekolah, kata dia, perlu memiliki data yang jelas mengenai siswa yang membutuhkan pendampingan. Pemetaan dapat dilakukan dengan melihat kondisi ekonomi keluarga, kondisi rumah dan kebutuhan riil siswa yang rentan putus sekolah. Selanjutnya, bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak, seperti biaya pendidikan, seragam, alat tulis maupun kebutuhan pendukung lainnya. Program tersebut juga perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Lebih lanjut, Prof. Novianty memperkenalkan empat pilar utama TPS, yaitu Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, Individualized Consideration, dan Idealized Influence. Keempat pilar tersebut menekankan pentingnya orang tua membangun visi masa depan anak, merangsang kemampuan berpikir dan kreativitas, memahami kebutuhan unik setiap anak, serta menjadi teladan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan GKB tidak cukup hanya dengan mengembalikan anak ke sekolah. Anak harus mendapatkan pendampingan agar mampu beradaptasi, mempertahankan motivasi belajar dan tidak kembali mengalami putus sekolah. “GKB tidak berhenti saat anak masuk sekolah, melainkan terjaga hingga lulus,” menjadi salah satu penekanan dalam konsep TPS yang dipaparkan.

Untuk memastikan program berjalan efektif, keberhasilan TPS dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain tingkat kehadiran orang tua dalam kelas parenting, peningkatan kehadiran siswa di sekolah, serta menurunnya kasus pelanggaran disiplin siswa yang mengikuti program GKB. Prof. Novianty juga mengingatkan adanya tantangan dalam pelaksanaan program, terutama kesibukan orang tua karena faktor pekerjaan dan ekonomi serta resistensi terhadap perubahan pola asuh.

Untuk mengatasinya, program dapat dilaksanakan dengan jadwal fleksibel, termasuk pada akhir pekan, serta memanfaatkan pembelajaran digital. Sementara untuk menghadapi resistensi, pendekatan persuasif dan berbagi pengalaman keberhasilan antarorang tua asuh dapat menjadi salah satu solusi. Melalui model tersebut, Prof. Novianty menegaskan bahwa keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah membutuhkan dukungan ekosistem rumah yang transformatif.

Sekolah bertugas mendidik anak, sementara melalui Transformational Parenting School, orang tua dan pengasuh juga diberdayakan agar mampu memberikan pendampingan yang lebih baik. Pesan utama yang diusung dalam konsep tersebut adalah Satu visi, bersama mengantar anak kembali meraih mimpi.(*)


Share